analgetika

Analgetik adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan kesadaran dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita.
Nyeri sebenarnya berfungsi sebagai tanda adanya penyakit atau kelainan dalam tubuh dan merupakan bagian dari proses penyembuhan (inflamasi). Nyeri perlu dihilangkan jika telah mengganggu aktifitas tubuh. Analgetik merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu komponen obat yang kita minum biasanya mengandung analgetik atau pereda nyeri.  Pada umumnya (sekitar 90%) analgetik mempunyai efek antipiretik.

Analgesik diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerja pada tingkat molekul dalam 2 golongan besar yaitu analgesik sentral (golongan narkotik) dan analgesik perifer (golongan non-narkotik) (Tan&Rahardja, 2008).
Analgesik narkotik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem saraf pusat secara selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang moderat ataupun berat seperti rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit kanker, serangan jantung akut sesudah operasi, kolik usus atau ginjal. Aktivitas analgesik narkotik jauh lebih besar dibanding golongan analgesik non narkotik, sehingga disebut analgesik kuat. Pemberian obat ini secara terus menerus menimbulkan ketergantungan fisik dan mental atau kecanduan (Siswandono&Sukardjo, 2000).
Mekanisme kerjanya yaitu efek analgesik dihasilkan oleh adanya pengikatan obat dgn sisi reseptor khas pada sel didalam otak dan spinal cord sehingga rangsangan reseptor menimbulkan efek euphoria dan perasaan mengantuk.
Berdasarkan struktur kimia analgetik narkotik dibagi 4 kelompok, yaitu:
1.    Turunan morfin
Morfin diindikasikan untuk nyeri moderat sampai berat, dan nyeri kronik. Morfin menyebabkan sedasi, efek ansiolitik, dan dapat mengurangi dosis anestesi. Menurut Beckett dan Casy, reseptor turunan morfin punya 3 sisi yg sangat penting untuk timbulnya aktivitas analgesik, yaitu :
 1. Struktur bidang datar, mengikat cincin aromatik obat dengan ikatan van der Waals
2. Tempat anionik, mampu berinteraksi dengan pusat muatan positif obat 
3. Lubang dengan orientasi sesuai untuk menampung bagian CH2 dari proyeksi        cincin piperidin, yang terletak didepan cincin aromatik dan pusat dasar
 2.    Turunan fenil piperidin (meperidin)
Meski struktur tidak berhubungan dengan struktur morfin tetapi masih menunjukkan kemiripan karena mempunyai pusat atom C kuarterner, rantai etilen, gugus N tersier dan cincin aromatik sehingga dapat berinteraksi dengan reseptor analgesik
3.    Turunan difenilpropilamin (metadon)
Turunan metadon dapat membentuk cincin bila dalam cairan tubuh karena ada daya tarik menarik dipol-dipol antara basa dengan gugus karboksil
4.    Turunan lain
Analgetika non narkotik (analgetik-antipiretika atau Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs (NSAID)) merupakan analegetik yang bekerja pada sistem syaraf pusat dan perifer, mengurangi rasa sakit ringan sampai moderat, menurunkan suhu badan, dan sebagai antiradang.
Tempat kerja utama NSAID adalah enzim siklooksigenase (COX), yang mengkatalisis konversi asam arakidonat menjadi prostaglandin. Prostaglandin tidak disimpan oleh sel, tetapi disintesis dan dilepaskan sesuai kebutuhan. Terdapat dua isoform enzim COX yaitu COX-1 dan COX-2. Cara kerja NSAID yaitu memblok kedua jenis COX tersebut. Golongan NSAID hanya menghambat COX-2 dan tidak COX-1. Secara teoritis, inhibitor COX-2 spesifik bersifat anti-inflamasi tanpa membahayakan saluran gastrointestinal atau mengubah fungsi platelet (Tan & Rahardja, 2008).
Berdasarkan struktur kimia, analgetik non narkotik dibagi 7 kelompok, yaitu:
1.    Turunan Asam Salisilat
Asam salisilat mempunyai aktivitas analgesik-antipiretik dan antirematik, tetapi tidak digunakan secara oral karena terlalu toksik. Yang banyak digunakan sebagai analgesik antipiretika adalah senyawa turunannya. Turunan asam salisilat menimbulkan efek samping iritasi lambung (Siswandono&Sukardjo, 2000)
 2.    Turunan Anilin dan para Aminofenol
Anilin mempunyai efek antipiretik cukup tinggi, tetapi toksisitasnya besar karena menimbulkan methemoglobin, bentuk hemoglobin yang tidak dapat berfungsi sebagai pembawa oksigen
3.    Turunan 5-Pirazolon dan Pirazolidindion
menghilangkan aktivitas antiradang karena senyawa tidak dapat membentuk gugus enol dengan subsitusi atom H degan gugus metil
4.    Turunan Asam N –Arilantranilat
Senyawa mempunyai aktivitas besar jika gugus pada N-aril berada di luar koplanaritas asam antranilat
5.    Turunan Asam Arilasetat dan Heteroarilasetat
Mempunyai gugus karboksil atau ekivalenya sepeti asam enolat, asam hidroksamat, sulfonamida, tetrasol, yang terpisah oleh 1 C dari inti aromatik datar. Pemisahan lebih dari 1 dapat menurunkan aktivitas analgetik
Pada turunan heteroarilasetat, seperti indometasin (areumetin), gugus karboksil pentingg untuk aktivitas antiradang, penggantian dengan gugus lain akan menurunkan aktivitas
6.    Turunan Oksikam
Contohnya piroksikam yang mempunyai aktivitas analgesik, antirematik, dan antiradang yang kurang lebih sama dengan indometasin, dengan masa kerja yang cukup panjang
7.    Turunan Lain-lain
Contohnya benzidamin HCl (tantum) yang mempunyai efek analgesik dan antiradang yang dapat digunakan untuk pemakaian sistemik dan setempat. Dalam bentuk obat kumur, digunakan untuk kondisi keradangan pada rongga mulut dan tenggorokan serta untuk antiradang setelah operasi gigi.


pertanyaan
1. Jelaskan mekanisme kerja obat turunan meperidin
2. apakah perbedaan spesifik dari mekanisme aksi dari analgetik narkotik dan non narkotik ?
3. apakah ada perbedaan antar mekanisme kerja obat paracetamol dengan ibu profen ? Meskipun mereka sama2 obat analgetik non narkotik
4. apakah boleh digunakan kombinasi obat antara analgetik narkotik dengan analgetik non-narkotik?
5. obat analgetik apakah yang dapat digunakan untuk pasien kanker?
6. terkait pembahasan diatas, Cara kerja NSAID yaitu memblok kedua jenis COX kemudian Golongan NSAID hanya menghambat COX-2 dan tidak COX-1, itu gimana maksutnya?
7.  mekanisme koyo sebagai analgetik
8. Apakah ada pengecualian khusus penggunaan analgetik terhadap lansia ?
9. apakah perbedaan analgetik narkotik dan non narkotik jika ditinjau dari segi struktur ?
10.  Bagaimanakah mekanisme kerja dari analgetik dalam tingkat molekul baik itu analgetik sentral maupun analgetik perifer ?
11. Jenis reseptor apa yang diikat oleh golongan obat analgetik perifer maupun sentral ?
12. Gugus apakah yang dapat menurunkan aktivitas analgetik dari turunan asam arilasetat dan heteroarilasetat 
13. , bagaimana mekanisme anilin yg mempunyai efek analgesik tinggi tetapi toksisitasnya juga besar, apa yg menyebabkan toksisitas itu terjadi?
14. bagaimana jika seseorang meminum obat analgetik tanpa aturan dosis yang tepat
15. apa perbedaan nyeri ringan, nyeri sedang, dan nyeri hebat ? dan apa obat yang cocok untuk masing - masing nyeri tersebut ?
16. apakah obat paramex bisa mengatasi nyeri? Jelaskan
17.  apakah struktur utama analgetik narkotik dan narkotik beda? jelaskan

Komentar

  1. Assalamualaikum ana,
    saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 6.
    Menurut saya NSAID bekerja secara non selektif sehingga mampu memblok COX 1 dan COX 2 secara bersamaan, sebagaimana diketahui bahwa aktivitas yang diinginkan sebagai (pereda nyeri/anti inflamasi) adalah hanya penghambatan selektif pada COX 2, bukan COX 1. jika obat tersebut bekerja secara nonselektif maka akan menimbulkan efek samping yang lain, misalnya karena penghambatan non selektif menyebabkan COX 1 juga terhambat sehingga tidak terbentuknya prostaglandin, dan menyebabkan luka pada lambung.

    BalasHapus
  2. jawaban no 16. Paramex mengandung
    Paracetamol 250 mg
    propyphenazone 150 mg
    Caffeine 50 mg
    dexchlorpheniramine maleate 1 mg
    PCT diketahui merupakan analgetik dan antipiretik. Parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Dalam golongan obat analgetik, parasetamol memiliki khasiat sama seperti aspirin atau obat-obat non steroid antiinflamatory drug (NSAID) lainnya. Seperti aspirin, parasetamol berefek menghambat prostaglandin (mediator nyeri) di otak tetapi sedikit aktivitasnya sebagai penghambat postaglandin perifer. Namun, tak seperti obat-obat NSAIDs.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat kakak, jd hanya menambahkan sedikit saja .paramex mengandung Paracetamol yang bekerja efektif sebagai analgesik dan antipiretik untuk meredakan rasa nyeri dan menurunkan panas demam, selain itu kandungan Propyphenazone nya bekerja efektif sebagai antiinflamasi untuk mengurangi peradangan, sedangkan kandungan Caffein dan Dexchlorpheniramine bekerja untuk mencegah rasa kantuk dan termasuk golongan obat antihistamin

      Hapus
  3. jawaban no. 2: perbedaan spesifik dari mekanisme aksi dari analgetik narkotik dan non narkotik adalah mekanisme kerja dalam penghambatan nyeri golongan narkotik mempengaruhi CNS yang dapat menyebabkan timbulnya adiktif sedangkan non narkotik tidak mempengaruhi CNS dan tidak pula menimbulkan efek adiktif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, bisa dikatakan jika analgetik non narkotika hanya mengurangi rasa nyeri ringan hingga sedang, sedangkan analgetik narkotika mengurangi rasa nyeri sedang hingga berat.

      Hapus
  4. jawaban no 5. Cara terbaik untuk menghilangkan nyeri karena kanker adalah mengobati kankernya. Nyeri akan berkurang jika timor diangkat melalui pembedahan atau diperkecil ukurannya melalui penyinaran. Tetapi biasanya diperlukan pereda nyeri yang lain. Terapi analgetik untuk kanker biasanya digunakan dengan analgetik opioid/narkotika seperti morfin. Namun hal ini tergantung pula dengan intensitas nyeri pada pasien.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan kak dayang, bisa juga digunakan morfin dan juga tergantung nyeri yang diderita oleh pasien kanker tsb

      Hapus
  5. jawaban no 1.Turunan Meperridin digunakan untuk nyeri akut. Mekanisme kerja : Meperidin mengikat reseptor opioid, terutama reseptor alfa.

    BalasHapus
  6. jawaban no 6. obat yang bekerja menghambat COX1 dan COX2 berarti mempunyai mekanisme kerja yang tidak selektif sehingga dapat menimbulkan banyak efek samping. Sedangkan NSAID yang selektif menghamabt COX2 disebut dengan NSAID yang bekerja seleketif. COX-1 fungsinya menghasilkan prostaglandin yang esensial bagi tubuh, misal di lambung dan ginjal. Sedangkan COX-2 khusus untuk jika ada reaksi inflamasi. Jika COX 1 dan COX 2 dihambat maka kemungkinan obat analgetik yang dikonsumsi dapat menyebabakan terjadinya ulkus peptikum dikarenakan Prostaglandin itu sendiri mempunyai khasita untuk memproteksi lambung . Trima kasih.

    BalasHapus
  7. Baiklah kak, Saya akan menjawab pertanyaan no. 12 yang dapat menurunkan aktivitas analgetik yaitu jika atom N pada asam antranilat diganti dengan gugus gugus isoterik seperti O,S dan CH2

    BalasHapus
  8. assalamaualaikum ana ,menurut saya jika ada pasien yang menggunakana obat analgetik dengan aturan yang tidak tepat dapat mengakibat kan terjadi nya efek samping yang berbahaya bagi pasien seperti masalah terhadap ginjal pasien tersebut Dan kebanyakan obat yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal adalah obat yang hanya bisa dibuang melalui ginjal.
    Beberapa insiden terkait penggunaan obat penghilang rasa sakit, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen dengan gagal ginjal akut pernah dilaporkan. Terimakasih

    BalasHapus
  9. Assalamualaikum
    Saya ingin menjawab pertanyaan nomor 7, yaitu :
    Kulit manusia memiliki tiga lapisan, yaitu; epidermis, dermis dan hipodermis. Lapisan pertama disebut epidermis atau biasa disebut kulit ari. Lapisan epidermis merupakan lapisan kulit bagian teratas pada kulit manusia. Nah di lapisan pertama inilah koyo ditempelkan.
    Lapisan kedua kulit disebut dermis, yang terdiri dari dari pembuluh darah, kelenjar minyak, folikel rambut, ujung-ujung saraf indra, dan kelenjar keringat. Di lapisan kulit ini koyo mengirimkan obat ke lapisan terdalam.
    Sedangkan lapisan kulit ketiga adalah jaringan subkutan yang merupakan lapisan kulit lemak atau jaringan ikat yang terletak di bawah lapisan dermis yang mana merupakan tempat penyimpanan lemak dalam tubuh. Di dalam lapisan ini kandungan obat yang terkandung pada koyo diserap melalui pembuluh darah ke dalam aliran darah. Dari situ, darah membawa obat melalui sistem peredaran darah dan menyebarkan ke tubuh.

    BalasHapus
  10. Jawaban nomor 3 adalah :
    Parasetamol menghambat produksi prostaglandin (senyawa penyebab inflamasi), namun parasetamol hanya sedikit memiliki khasiat anti inflamasi. Telah dibuktikan bahwa parasetamol mampu mengurangi bentuk teroksidasi enzim siklooksigenase (COX), sehingga menghambatnya untuk membentuk senyawa penyebab inflamasi. Paracetamol juga bekerja pada pusat pengaturan suhu pada otak.
    Ibuprofen bekerja dalam dua cara: pertama, memblokir produksi senyawa kimia mirip hormon prostaglandin dalam aliran darah yang menyebabkan peradangan dan nyeri. Kedua, ibuprofen bertindak dengan mengurangi peradangan atau iritasi yang mengitari luka, sehingga mempercepat proses penyembuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahh bener nih yang dibilang ines jadi conclusionnya gini paracetamol unggul dalam menurunkan panas sedangkan ibu profen unggul dalam mengatasi nyeri wkwwk begitulah singkatnya

      Hapus
    2. saya setuju dengan kak ines, pct lebih kepenurunan suhu pada tubuh sedangkan untuk ibuprofen untuk mengurangi rasa sakit

      Hapus
  11. menurut artikel yang saya baca obat golongan analgetik narkotik tidak boleh dikombinasikan dengan analgetik non narkotik secara bersamaan, karena akan menimbulkan interaksi obat dan menyebabkan efek samping yang lebih besar. Sebaiknya obat digunakan sesuai nyeri yang diderita. jika nyeri berat sebaiknya menggunakan analgetik narkotik,
    jika nyeri ringan maka bisa mnggunakan analgetik nonnarkotik

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa dikombinasikan kalau efeknya sama, bukan begitu tika? lagian ditakutkan nanti obatnya efeknya jadi aditif (eh atau adiktif? yang efeknya saling menguatkan) jadi resiko toksisitasnya besar

      Hapus
  12. Menurut artikel yang pernah saya baca.
    Turunan Meperridin digunakan untuk nyeri akut. Mekanisme kerja : Meperidin mengikat reseptor opioid, terutama reseptor alfa.

    BalasHapus
  13. no 7
    koyo atau Patch transdermal adalah patch dengan perekat yang mengandung senyawa obat, yang diletakkan di kulit untuk melepaskan zat aktif dalam dosis spesifik melalui kulit menuju aliran darah. Merupakan cara penghantaran obat secara topikal dalam bentuk patch atau semisolid yang dapat memberikan efek sistemik yang terkontrol. Penghantar obat secara transdermal memiliki banyak keuntungan di bandingkan dengan metode penghantar obat secara konvensional seperti pemberian obat secara oral. Penghantaran transdermal memberikan pelepasan obat yang terkontrol, menghindari metabolisme hepatik, menghindari pengaruh pencernaan, kemuduhan memberhentikan pemakaian, dan durasi penghantar obat yang lama. Mekanisme penghantaran obat transdermal adalah menghantarkan molekul obat melewati lapisan Stratum corneum dalam kulit dengan berdifusi melalui lapisan lipid kulit. (Amjad,2011)

    BalasHapus
  14. No. 16, Dari yang saya dapatkan, kandungan paramex yaitu Paracetamol 250 mg, Caffeine 50 mg, Propyphenazone 150 mg, serta Dexchlorpheniramine Maleate 1 mg dalam 1 tablet. Dari komposisi tersebut terlihat bahwa paramex mengandung obat golongan analgetik, sehingga dapat digunakan untuk mengatasi nyeri

    BalasHapus
    Balasan
    1. paramex ada parasetamolnya, parasetamol adalah termasuk obat yang dapat mengurangi rasa sakit dalam tingkatan nyeri rendah,.

      Hapus
  15. Pertanyaan no.16
    Ya, paramex dapat mengatasi nyeri, dari nyeri ringan sampai nyeri sedang, dikarenakan didalam obat tersebut terdapat kandungan parasetamolnya yang berkhasiat sebagai analgetik

    BalasHapus
  16. ada 4 perbedaan antara AINS dengan analgetik narkotik, yakni :
    Struktur kimianya tidak mirip morfin, bahkan masing-masing golongan AINS juga tidak mirip.
    Tidak efektif untuk nyeri hebat, nyeri viseral, dan nyeri terpotong.
    Bekerja secara sentral (SSP) dan atau perifer.
    Tidak menimbulkan toleransi dan addiksi (ketergantungan)

    BalasHapus
  17. No 7
    Komposisi dalam koyo itu mengandung metil salisilat yang tergolong analgetik golongan AINS salisilat. Mekanisme kerja dari koyo itu sendiri yaitu melalui proses perjalanan obat menuju sirkulasi sistemik dimulai dari tahapan difusi yang lambat yang ditentukan oleh gradient konsentrasi obat dari konsentrasi tinggi (pada sediaan yang diaplikasikan) menuju konsntrasi rendah di kulit. Obat dapat mempenetrasi kulit utuh melalui dinding folikel rambut, kelenjar minyak, atau kelenjar lemak. Dapat pula melalui celah antar sel dari epidermis dan inilah cara yang paling dominan untuk penetrasi obat melalui kulit dibandingkan penetrasi melalui folikel rambut, kelenjar minyak, maupun kelenjar lemak. Hal ini terkait perbandingan luas permukaan diantara keempatnya, pembentukan depot obat, metabolisme dan pengambilan melalui kapiler dan vasklator. Namun, absorpsi suatu obat secara umum dihasilkan dari penetrasi obat langsung melalui stratum korneum. Setelah melalui stratum korneum, molekul obat dapat melintasi jaringan epidermal yang lebih dalam melalui difusi pasif dan memasuki dermis. Jika obat mecapai pembuluh darah, metil salisilat akan menghambat sintesis prostaglandin dengan menghambat kerja enzim siklooksigenase pada pusat termoregulator dihipotalamus dan perifer.

    BalasHapus
  18. 14. bagaimana jika seseorang meminum obat analgetik tanpa aturan dosis yang tepat?
    Pembahasan:
    Penggunaan obat harus sesuai dengan aturan dosis. Perhitungan dosis dapat berdasarkan usia dan berat badan pasien. Penggunaan dosis yg tdk tepat dapat mngakibatkan 2 hal, yakni kadar dibawah dan melewati MEC ( minimum efectif dosis), dimana apabila dosis obat dibawah MEC, maka obat tidak menimbulkan efek. Sementara jika melewati MEC akan mengakibatkan toksik pada pasien tersebut.

    BalasHapus
  19. obat analgetik yang dapat digunakan untuk pasien kanker adalah analgetik golongan narkotik biasannya bisa digunakan morfin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat maliza jika obat analgetik yang dapat digunakan untuk pasien kanker yaitu analgetik narkotik, dan untuk contoh lainnya yaitu metadon, fentanil dan codein

      Hapus
  20. saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2 , perbedaan spesifik dari mekanisme aksi dari analgetik narkotik dan non narkotik adalah mekanisme kerja dalam penghambatan nyeri golongan narkotik mempengaruhi CNS yang dapat menyebabkan timbulnya adiktif sedangkan non narkotik tidak mempengaruhi CNS dan tidak pula menimbulkan efek adiktif.

    BalasHapus
  21. hay kak ana, untuk pertanyaan no.16
    paramex mengandung paracetamol yang bekerja efektif sebagai analgesik dan anti piretik untuk meredakan rasa nyeri dan menurunkan panas demam, selain itu kandungan propyphenazone nya bekerja efektif sebagai anti inflamasi untuk mengurangi peradangan, sedankan kandungan kaffein dan dexchlorpheniramine bekerja untuk mencegah rasa kantuk dan termasuk golongan obat antihistamin

    BalasHapus
  22. saya akan menjawab pertanyaan no. 6. menghambat COX1 dan COX2 berarti mempunyai mekanisme kerja yang tidak selektif sehingga dapat menimbulkan banyak efek samping. Sedangkan NSAID yang selektif menghamabt COX2 disebut dengan NSAID yang bekerja seleketif. COX-1 fungsinya menghasilkan prostaglandin yang esensial bagi tubuh, misal di lambung dan ginjal. Sedangkan COX-2 khusus untuk jika ada reaksi inflamasi. Jika COX 1 dan COX 2 dihambat maka kemungkinan obat analgetik yang dikonsumsi dapat menyebabakan terjadinya ulkus peptikum dikarenakan Prostaglandin itu sendiri mempunyai khasita untuk memproteksi lambung .

    BalasHapus
  23. Hai kak ana, saya akan menjawab pertanyaan no. 12 yang dapat menurunkan aktivitas analgetik yaitu jika atom N pada asam antranilat diganti dengan gugus gugus isoterik seperti O,S dan CH2

    BalasHapus
  24. analgesik yang biasa digunakan untuk pengobatan nyeri kanker adalah aspirin 500 mg dan parasetamol mg setiap 4-6 jam untuk tahap awal. Analgesik lain yang juga sering diresepkan pada tahap awal ini adalah kelompok NSAID (nabumeton). Sedangkan analgesik adjuvan yang digunakan terdiri dari obat-obat khusus yang bisa membantu meredakan nyeri, seperti antidepresan, anthistamin, kafein, steroid, fenotiazin, serta antikonvulsan. Sementara untuk opiat kuat biasa diberikan morfin injeksi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer